Ceracau Kesal


Ini tulisan tentang pernikahan. Jadi, kalo gak suka, ya gak usah baca. Tujuan dari tulisan ini adalah mencoba memaknai ulang sebuah pernikahan sehingga tidak ada lagi yang menganggap bahwa pernikahan hanyalah romantika pasutri.

Sebenernya pemikiran ini sudah muncul sejak terakhir kali menjadi panitia walimahan pada awal bulan Juni, tapi urung saya tuliskan gegara sepertinya belum layak ditulis oleh saya, karena belum saya pastikan kebenarannya (sampai sekarang saya pun belum ngecek ke ulama faqih manapun, jadi tolong bantu validasi ya). Akan tetapi, hal itu berubah sejak negara api menyerang ada “binaan” yang dikit-dikit ngomongin nikah. Udah gitu dipakai becanda dengan lawan jenis. Saya rasa ini sudah keterlaluan, sehingga saya harus menyuarakan(?) hal ini.

Mungkin banyak orang yang terlalu mengagungkan secara berlebihan hadits berikut ini:

Dari AbduLlah bin Amr, bahwa RasuluLlah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim 1467)
Baca lebih lanjut

Kaderisasi untuk Anak


Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:
عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)
“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya.”

seorang kakak kelas pernah berpendapat tentang hadits di atas. terutama tentang perkara ketiga.
menurutnya, untuk memiliki anak sholih yang mendoakan kita, butuh persiapan yang serius. dan persiapan tersebut bukan bermula ketika anak itu sudah besar, lalu kita ajarkan bagaimana sholat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.
bukan seperti itu. melainkan bermula ketika kita memilih ibunya. iya, ketika kita memilih istri yang baik atau tidak.

akan tetapi, bila membicarakan hal seperti ini (bukan galau lho… =p), bagi saya ada dua harapan yang bertolak belakang.
pertama, yah, seperti yang dibicarakan saat ini. punya anak sholih dengan memilih istri yang sholihah. (masalahnya saya ga sholih-sholih amat, jadi mana ada akhwat yang mau. hahaha. lagian selama ini mencitrakan diri sebagai orang yang nyebelin =p)
kedua, saya pernah berharap kalo pernikahan saya adalah dakwah juga. mengubah seseorang menjadi lebih baik. saya rasa yang begini ini akan menghasilkan pahala yang sangat besar. selain itu, kasian kan kalo orang-orang yang belum tercerahkan oleh Islam nikahnya sama orang-orang yang belum tercerahkan juga. apalagi lebih banyak orang yang belum tercerahkan dibanding yang sudah. mereka akan terjerat oleh lingkaran setan tersebut.
umm, hanya saja saya ga siap euy, kalo nanti ngeliat istri saya ngobrol berdua dengan laki-laki lain (meski pun cuma ngobrol doang), pulang malam, dan lain-lain. gimana dong?

ok lupakan, kembali lagi ke topik tentang kaderisasi untuk anak.
dimana-mana, jika sedang membicarakan sesuatu, paling enak dengan mengaitkan bagaimana sikap atau pikiran Rasulullah terhadap sesuatu tersebut. toh, beliau adalah Uswah kita kan?
yah, walau saat ini saya tidak akan membicarakan bagaimana Rasulullah membina Fathimah Azzahra dss (dan saudara-saudarinya), karena kurang ilmunya. tetapi insya Allah agak nyambung kok.
jadi, saya kepikiran untuk menggunakan bagaimana Rasulullah membina para sahabat.
Baca lebih lanjut

Untuk yang Berbahagia


Ahad, 19 September 2010

Huaa, senangnya bisa kembali ke Indonesia. Kampung halamanku tercinta. Empat tahun yang kuhabiskan di Eastern Mediterranean University (EMU), Turki, untuk mendalami keilmuan arsitektur, sungguh masa-masa yang takkan kulupakan karena Turki memang negara yang indah. Disana saya jatuh cinta beberapa kali. Pada Karang Pamukkale di provinsi Denizli, pada kota Aphrodisias dan kota Herapolis yang penuh bangunan bersejarah, pada pantai-pantai yang indah di Provinsi Antalia, pada susunan batu unik Cappadocia, pada roti kebab, dan tentu saja pada gadis-gadis Turki. Nah, yang terakhir tadi sangat spesial, entah mengapa ketika melihat gadis-gadis Turki saya merasa bahwa kecantikan gadis-gadis Indonesia tidak ada apa-apanya, bahkan seujung kukunya pun tidak. Perpaduan mata yang indah, hidung yang mancung, rambut hitam legam, dan bibir tipis menawan itu tidak ada di Indonesia. Ah, sudahlah. Sekarang saatnya menumpahkan segala rindu yang begitu membuncah di dada kepada ummi, abi, dan adik-adik.

Senin, 20 September 2010

Hari kedua di Indonesia. Terasa ada yang hilang di hati, sepertinya jiwa saya tertinggal di sana, di Turki. Kerinduan ini kembali muncul, kepada makhluk Allah yang disebut perempuan. Akan tetapi yang perempuan yang kumaksud adalah perempuan Turki. Jadi ingat, kemarin berbincang dengan ummi semalam suntuk. Sepertinya ummi sudah sangat rindu pada anak pertama yang dilahirkan tetapi yang kedua yang dikandungnya ini. Dari situ saya tahu, ternyata ummi mengharapkan saya segera menikah. Mungkin tidak ya, saya menikah dengan gadis Turki?

Selasa, 21 September 2010

Keinginan ummi agar saya segera menikah bukan gurauan belaka. Tadi ummi mengajak saya jalan-jalan keliling kompleks rumah. Lalu ummi menunjuk seorang gadis berkerudung lebar hingga siku dan memakai jilbab yang membuat saya hampir tidak bisa melihat sepatunya. Namanya Raudhatul Jannati. Cantik sih, tetapi beda jauh sama gadis Turki. Saya agak keberatan, tetapi ummi bilang bahwa ummi terlanjur sayang pada gadis itu. Dia pernah menolong ummi ketika ummi terkilir kemudian memijit ummi selama beberapa hari. Pada saat itulah ummi tahu kalau dia adalah gadis yang paham agama dan pintar secara akademis. Dia adalah sarjana berpredikat cumlaude program studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Namun, hingga kini saya masih mendambakan memperistri seorang Turki.

Rabu, 22 September 2010

Saya bingung sama diri saya sendiri. Tidak tahu dihipnotis siapa, hari ini saya sekeluarga berkunjung ke kediaman Raudhatul Jannati dan saya mengkhitbahnya. Cukup singkat, kami hanya saling memberi info tentang diri kami masing-masing yang kira-kira dibutuhkan. Setelah itu selesai, jawabannya akan dikirim besok.

Kamis, 23 September 2010
Baca lebih lanjut

Mahligai Cinta


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (١)
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisaa: 1)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢١)
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Rum: 21)

Hari Sabtu kemarin (9 Mei 2009) adalah hari bahagia bagi mamang/oom (adik ibu) saya, karena beliau melansungkan pernikahan dengan Tante Gadis.
Pada aqad-nya saya membacakan quran surat annisaa ayat 1 dan arrum ayat 21.
Setelah ijab-qabul, salam-salaman, foto-foto, dan makan-makan ^^ saya kembali ke kamar dan langsung mencari nasyid Mahligai Cinta dari Nuansa. Ini dia liriknya.

Kini berpadulah dua hati dalam mahligai cinta
Ikatan nan agung sempurna sebagian agama
Allah telah menghalalkan mu menjadi pendamping bagiku
Dan kau pun telah mengikhlaskanku menjadi pendampingmu

Jagalah keutuhannya
Kukuhkanlah ikatannya
Patuhilah perintahnya
Agar Allah menyayangimu
Didiklah anak-anak kita
jadi anak yang sholeh

Semoga bahagia senantiasa menyertai kita
Walaupun cobaan melanda tetaplah bersabar
Bukankah Allah tlah janjikan surga yang penuh kenikmatan
Rasa sayangku kepadamu akan bertambah selalu

Barakallahu laka barakallahu ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Amin