Melintas dan Mengitari Bumi


Tulisan ini sebenarnya sudah lama mengendap di blog. Tercatat tanggal 29 April 2013 pertama kali tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti Open House dari Observatorium Bosscha. Yang akan mentemen baca di bawah adalah salah satu kuliah yang diberikan oleh Pak Dr. Budi Dermawan M.Sc. mengenai “Melintas dan Mengitari Bumi.”

Pak Budi mengawali ceramahnya dengan menyebutkan bahwa manusia ingin mengetahui posisi dirinya di alam semesta, dan punya motivasi tinggi untuk mengetahui apa saja yang ada di langit. Untuk melihat benda langit, kita butuh langit yang gelap (tidak berpolusi cahaya) dan cuaca bersih (tidak berawan). Kedua hal tersebut adalah langit impian saya sedunia. Pengen banget sekali aja merasakan langsung langit yang gelap dan bersih.

Selanjutnya Pak Budi menerangkan bahwa ruang angkasa sekitar Bumi tidaklah sepi. Pertama, ada benda yang mengitari Bumi, yaitu Satelit (baik satelit alami, maupun satelit buatan). Lintasannya bermacam-macam: ada yang dari kutub ke kutub dan ada yang geostatical, ada yang bentuk orbitnya bundar dan ada yang lonjong, ada yang orbitnya panjang (jauh dari Bumi) dan ada yang pendek (dekat dengan Bumi). Satelit ini lama-kelamaan jadi sampah angkasa. Sampah satelit di langit pada Januari 2013 ada 17.000 buah dengan berat total 6,5 juta ton. Ikhtiar manusia mengenai masalah ini adalah dengan membuat “tempat sampah” angkasa.
Baca lebih lanjut

Polusi Cahaya di Salman


polusi cahaya

Perubahan-perubahan fisik di Salman kini menghasilkan polusi cahaya. Silakan lihat foto. Yang di kiri adalah Salman dulu, terlihat rumput yang berada di bawah lampu taman menjadi terang. Sedangkan yang di kanan adalah Salman sekarang, terliat rumput yang berada di bawah lampu taman tetap gelap.
Baca lebih lanjut

50 Tahun Masjid Salman (Part Two)


Lampu

Markila, mari kita lanjutkan.

Tulisan part one lebih kepada Masjid Salman di awal-awal berdirinya. Dan tentu saja itu tidak saya alami langsung, sehingga saya terima dari cerita mulut-ke-mulut orang lain, serta belum saya cek validitas datanya. Hehe, jadi emang bukan tulisan ilmiah. Nah, kalo part two ini insya Allah langsung saya amati sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus bergambar gajah lagi frustasi (sampai-sampai buku aja didudukin dan gadingnya sendiri dia patahin).

Umm, mulai dari mana ya? Dari lanskapnya dulu aja lah ya, berhubung foto yang pertama muncul adalah tulisan Masjid Salman ITB yang diterangi lampu berwarna biru. Tulisan ini tadinya tidak ada, mungkin karena orang-orang bingung mencari Masjid Salman dimana (padahal sudah di depan mata, tetapi tetap bertanya), jadinya pengurus YPM memberikan tanda berupa tulisan di tempat masuknya. Awalnya tulisan ini berada di batu alam yang dekat lapangan utara, terus dipindah ke tempat yang ada di foto.

Pembaharuan ini lumayan lah, ada desainnya. Meskipun cahaya lampunya ada yang mengarah ke langit, beda banget dengan lampu di lapangan rumput utama (yang ada di belakang kortim) yang tepat guna karena menjaga langit malam tetap gelap. Mengenai lampu yang mengarah ke langit pun terjadi juga pada lampu sorot yang menerangi menara dan atap masjid. Semoga bisa segera dicopot dan ke depannya kita bisa cermat dalam menggunakan cahaya lampu agar tidak terjadi polusi cahaya.

lampu salman
Baca lebih lanjut

The Milky Way and The Light Pollution


Apa yang teman-teman rasakan ketika memandangi langit di gambar ini?

Biasa aja kan ya?
Nah, coba kita matikan lampu luar yang ada di gambar pertama.

Wow! Kita bisa melihat galaksi Bima Sakti secara langsung.
Sugoi banget lah…

Sekarang, kita pindah tempat.
Bagaimana dengan langit pada gambar di bawah?

Masih biasa saja?
Yap, padahal aslinya kayak gini lho…

Saya rasa empat gambar di atas cukup menjelaskan distorsi visual akibat polusi cahaya.
Polusi cahaya berarti cahaya buatan non-alami yang tidak terkendali sehingga menyebabkan langit yang terang (sky glow/uplight), silau (glare), dan gangguan terhadap hak sekitar (trespass).

Cahaya yang disalahgunakan dapat mengurangi atau menutup jarak pandang, karena benda yang berada di belakang sumber cahaya tidak akan dilihat oleh mata. Itulah mengapa gemintang di langit tidak terlihat, penyebabnya adalah bintang-bintang tersebut tertutup oleh polusi cahaya. Tentu saja polusi cahaya sangat mengganggu pengamatan dan riset astronomi. Ah, di zaman sekarang, berapa kali sih kita bisa melihat Milky Way secara langsung?
Baca lebih lanjut

Arsitek(tur) ♥ Astronom(i)


Banyak malam yang telah kita lewati tanpa rasa syukur pada Allah Yang Maha Kuasa, padahal Allah telah menghiasi langit malam dengan berlaksa benda langit yang luar biasa keindahan dan kompleksitasnya.

Gemintang yang senantiasa membentuk formasi yang teratur, mampu menunjukkan arah saat kita tersesat dalam gelap. Planet-planet tata surya kita yang senantiasa memantulkan cahaya sang surya. Meteor yang begitu indah saat menghujan seolah sedang melukis di kanvas langit. Nebula-nebula yang menggumpal dan membawa pesan masa depan akan lahirnya bintang baru. Bekas kilatan supernova yang kaya akan materi dan energi, menyisakan sebuah benda kerdil bewarna putih sahaja. Belum lagi komet, asteroid, dan benda langit lainnya.

Namun kini, berapa banyak sih bintang yang bisa terlihat? Berapa orang sih yang telah merasakan kemegahan taburan langit malam?

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pernah mengeluarkan data bahwa 2/3 dari populasi dunia tidak pernah melihat malam yang benar-benar gelap dan dipenuhi bintang-bintang. Kemudian, 99% dari penduduk Eropa Barat dan Amerika Serikat tidak pernah melihat langit malam yang gelap secara alami.

Sedih ya?
Melihat saja tidak bisa, apalagi berimajinasi membayangkan konstelasi-konstelasi yang ada di langit itu dengan berbagai macam hal, seperti yang telah dilakukan orang-orang Yunani zaman silam.
Kebayang tidak, sewaktu melihat rasi sagitarius akan tertampak seseorang manusia berkaki kuda dan memegang busur panah? Tahu tidak, rasi scorpius mirip hewan apa? Saya yakin, manusia sekarang pada umumnya tidak akan tahu kecuali didapat dari zodiak yang penuh unsur kemusyrikan.
Lebih jauh lagi, dengan astronomi akan timbul rasa ingin tahu yang begitu besar, karena objek pembahasan ilmu falak ini begitu jauh dan sulit terjamah oleh tangan manusia. Pantas saja, ketika terjadi sky glow, anak-anak zaman sekarang jadi malas belajar.

Pertanyaan utamanya adalah: Mengapa itu bisa terjadi?
Penyebab masalah di atas adalah adanya polusi cahaya yang berasal dari lampu-lampu yang tidak tepat penggunaan cara, jenis, tempat, dan waktunya. Mari kita perhatikan gambar berikut:

Polusi cahaya menutupi cahaya benda langit.

Baca lebih lanjut