Resume (beberapa bab) Buku Fiqh Prioritas


Prioritas ilmu atas amal

  • Logikanya, bila seseorang memahami ajaran agamanya, dia akan beramal, dan melakukan amalan itu dengan baik, sehingga bisa disimpulkan bahwa ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan.
  • Ada beberapa tingkatan manusia dalam hal menerima ajaran agama, yaitu: Tingkatan orang yang paling tinggi ialah orang yang memahami ilmu pengetahuan, memanfaatkannya, kemudian mengajarkannya. Sedangkan tingkatan yang berada di bawahnya ialah orang yang mempunyai hati yang dapat menyimpan (dapat menghafal dengan baik), tetapi dia tidak mempunyai pemahaman yang baik dan mendalam pada akal pikiran mereka, sehingga dia dapat membuat kesimpulan hukum yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena itu, manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah dan rasul-Nya ialah orang-orang yang memahami dan mengerti, disusul dengan orang yang menghafal.
  • Persoalan yang termasuk di dalam fiqh prioritas ini ialah menyelami pelbagai tujuan yang terkandung di dalam syari’ah. Kekeliruan yang sering kali dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti ilmu agama ini ialah bahwasanya mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari rahasia dan tujuan yang sebenarnya. padahal seharusnya maksud dan tujuan lebih diprioritaskan atas penampilan luar.
  • Ilmu bukan sekadar pengetahuan tentang hukum, walaupun diperoleh dari hasil taqlid kepada orang lain atau mengutip perkataannya dengan tidak memiliki hujjah yang memuaskan. Karena sesungguhnya ilmu tetap berjalan bersama dengan dalilnya ke manapun ia pergi, dia berputar bersama kebenaran yang memuaskan di manapun berada. Para imam ahli ijtihad telah banyak melakukan perubahan terhadap berbagai pendapat, karena mengikuti perubahan ijtihad yang baru mereka lakukan. Ijtihad yang disertai ilmu terhadap perubahan yang ada lebih didahulukan daripada taqlid kepada orang lain tanpa hujjah yang memuaskan.
  • Tambahan: urusan dunia dan pendapat fiqh.

 
Prioritas dalam bidang fatwa dan da’wah

  • ‘Aisyah berkata, “Rasulullah saw tidak diberi pilihan terkadap dua perkara kecuali dia mengambil yang paling mudah di antara keduanya selama hal itu tidak berdosa. Jika hal itu termasuk dosa maka ia adalah orang yang paling awal menjauhinya.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagaimana yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan). Oleh karena itu, persoalan yang ringan dan mudah lebih diprioritaskan atas persoalan yang berat dan sulit.
  • Tambahan: kondisi darurat, perubahan fatwa, pentahapan (marhalah) dalam da’wah, budaya kaum muslimin, isu-isu yang disorot oleh al-Qur’an.

Baca lebih lanjut