The Messenger


Seketika, teringat dengan jelas berbagai peristiwa yang dijalani oleh Nabi Muhammad saw mengarungi samudra perjuangan dakwahnya. Berbagai ombak cobaan dan badai cercaan datang menerpa silih berganti.

Ketika di awal-awal risalah, beliau mengalami tahun kesedihan, lalu beliau harus meninggalkan kampung halamannya sekaligus kenangannya semasa kecil. Ketika di Marhalah Madaniyyah, banyak perang-perang besar yang terjadi. Uhud dan Ahzab yang paling membekas, karena banyak kesedihan dan kepayahan yang diterima sang Nabi.

When you feel you’re alone
Cut off from this cruel world
Your instincts telling you to run

Apa jadinya bila Nabi Muhammad lari dari tugas yang diembannya. Mungkin saat ini agama yang kita anut bukanlah Islam atau mungkin saat ini kita ada di tempat-tempat maksiat menghabiskan waktu untuk dimasukkan ke neraka. Na’udzubiLlah.

AlhamduliLlah, kita diberikan suri tauladan yang sangat tidak pernah putus asa dan tidak pernah mengikuti keinginan hawa nafsu. Padahal harta, tahta, dan wanita telah ditawarkan oleh musuh-musuhnya agar dia berhenti dari aktivitasnya.

Listen to your heart
Those angel voices
They’ll sing to you

Baca lebih lanjut

Tips Seminggu Khattam


Aus bin Hudzaifah berkata, “Kami bertanya kepada para sahabat Rasulullah shalaLlahu `alaihi wasallam pada pagi harinya, ‘Bagaimana kalian membagi hizb Al-Qur’an?’ Mereka menjawab, ‘Kami meng-hizb-nya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb Al-Mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir.’”
[HR. Ahmad]

Hari 1: Al Fatihah – An Nisa (Fatihah dan 3 surat)
Hari 2: Al Maidah – At Taubah (5 surat)
Hari 3: Yunus – An Nahl (7 surat)
Hari 4: Al Isra – Al Furqan (9 surat)
Hari 5: Asy Syu’ara – Yasin (11 surat)
Hari 6: Ash Shaffat – Al Hujurat (13 surat)
Hari 7: Al Mufashshal / Qaf – An-Nas

atau

“Utsman bin Affan membuka malam Jumat dengan membaca Al Baqarah sampai Al Maidah; malam Sabtu surat Al An’am sampai surat Hud; malam Ahad surat Yusuf sampai Maryam; malam Senin surat Thaha sampai Tha Sin Mim, Musa, dan Fir’aun (surat al Qashash); malam Selasa surat al Ankabut sampai Shad; malam Rabu surat Tanzil (az Zumar) sampai Ar Rahman; dan malam Kamis mengkhatamkannya. Ibnu Mas’ud mempunyai cara pembagian yang lain, yang berbeda dari sisi jumlah surat, namun sama dalam mengkhatamkan, yakni tiap pekan. Banyak riwayat tentang pembagian bacaan dalam sepekan tersebut”.
[Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Bab Al Ma’tsurat]

Hari 1: Al Fatihah – An Maidah
Hari 2: Al An’am – Hud
Hari 3: Yusuf – Maryam
Hari 4: Thaha – Al Qashash
Hari 5: Al Ankabut – Shad
Hari 6: Az Zumar – Ar Rahman
Hari 7: Al Waqi’ah – An Nas

“Allahummarhamna bil Quran…”

Andai Saja…


Andai saja, saat ini RasuluLlah saw masih hidup…

Andai saja, saya adalah Umar yang mendatangi RasuluLlah setelah mendengar niatan Thalhah untuk meminang Aisyah selepas wafat RasuluLlah.

Andai saja, saya berkesempatan seperti Umar yang berkata: “Ya RasuluLlah, mulai sekarang jangan ada di antara istri-istrimu yang tampak di muka umum, hijabi mereka semua, tutup, jangan ada orang yang melihat istri-istrimu. Demi Allah kehormatan agama ini dipertaruhkan.”

Andai saja, saya bisa menyampaikannya kepada RasuluLlah agar turunkan larangan interaksi antarlawan jenis pada malam hari, mulai dari sms-an, telponan, like-an, tag-an, mention-an, what’s up-an, skype-an, ym-an, hingga bbm-an. Apatah lagi bertemu langsung.

Andai saja, seketika RasuluLlah langsung menjelaskan bahwa Dienul Islam telah sempurna, tak perlu ada yang ditambah.

Andai saja, RasuluLlah jelaskan bahwa firman-Nya: “…yaitu sebelum sembahyang fajar, dan seketika kamu menanggali pakaian kamu selepas Zuhur, dan sesudah sembahyang ‘Isya. itulah tiga masa aurat bagi kamu…” adalah larangan tersebut.

Andai saja, beliau sampaikan itu semua kepada para aktivis da’wah hari ini.

Ah, andai saja, berandai-andai seperti ini ada manfaatnya…
Hanya merasa dibohongi dengan aturan jam malam. Namun, percaya deh, sesungguhnya saya lebih berharap terus dibohongi seperti ini…

Berukhuwah adalah Bermasalah


Berukhuwah adalah bermasalah, bersaudara adalah bersiap untuk di sana ada berbagai macam konflik-konflik yang akan tercipta di antara kita. Jadi, sangat agung Allah swt yang memberi kita ayat ukhuwah sekaligus ayat masalah dalam surat Al Hujurat ayat ke-10.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Dalam ayat ini Allah memberikan taujih kepada kita bahwasanya orang yang beriman itulah bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu. Maka alangkah aneh, bila ada orang yang berukhuwah, namun merasa dengan ukhuwah maka tidak akan ada masalah. Justru ukhuwah adalah titik dimana akan terjadi berbagai macam persoalan di dalam kehidupan kita, yaitu persoalan yang akan mendewasakan kita dan bahkan akan kita mengantar kita, dengan persoalan-persoalan itu, menuju ke ufuk tinggi yang mungkin tidak dicapai oleh dengan amal-amal ibadah semata.

Ayat ukhuwah adalah ayat masalah, dan berukhuwah berarti kita sedang memulai untuk merajut kehidupan yang lebih bermakna dengan berbagai macam masalah-masalah yang akan mendewasakan kita. Maka, di dalam masalah-masalah itulah kita tetap mampu berdekapan, kita tetap mampu berpelukan, kita tetap mampu seiring sejalan, karena yang kita tuju satu, yakni Allah swt; karena terminal perhentian kita sama, yaitu surga; karena bendera kita tertulis satu lafal agung “Li’ila-i KalimatiLlah”. Maka, kita memiliki bekal yang banyak, meskipun ada masalah-masalah itu, untuk kemudian tetap berpeluk dan berdekap, dalam dekapan ukhuwah…

Hatta, bahkan RasuluLlah Muhammad saw, ditaujih oleh Allah ‘Azza wa Jala, dengan taujih yang sangat agung di surat Al Kahfi ayat yang ke-28:
Baca lebih lanjut

Urgensi Membina


Alhamdulillah, saya menemukan visualisasi sebuah ceramah dari Imam Anwar Al Awlaki tentang salah satu episode hidup Umar bin Khattab radiyallahu’anhu. Dan saya rasa, kisah ini harusnya semakin meningkatkan sense membina dari diri kita. Yuk, simak baik-baik…

Umm, menurut saya sih, ga ada dakwah yang lebih sakti mandraguna dibandingkan mentoring, karena dengan metode seperti itu kita bisa nyentuh secara personal. Kita bisa mencet idungnya satu persatu, kalo mau doang sih. Tapi itu tidak bisa dilakukan oleh tabligh akbar, meskipun itu dilakukan oleh ulama yang diakui tingkat internasional.

Dan hebatnya lagi, mentoring tidak hanya memberikan kebenaran semata, tetapi mampu membentuk seseorang hingga ia memiliki kepribadian seorang muslim sejati bahkan memiliki kepribadian seorang da’i. Wow! Beda dengan tabligh akbar yang dateng duduk pulang.
Kok kayak ngejelek-jelekin tabligh akbar ya? Hehe, maap, tidak bermaksud seperti itu. Tabligh akbar juga penting, tetapi saya sedang menekankan efektivitas mentoring dalam berdakwah.

Maka dari itu, seharusnya seorang da’i memberikan perhatian yang lebih terhadap mentoring ini. Karena belum ada wasilah yang memberikan efek sedahsyat dan seinbox mentoring.
Belum lagi, ada buanyak pahala yang menunggu diri kita di sana.

Hadits pertama yang saya kutip adalah penggalan dialog antara Rasulullah dengan para sahabat, di bagian akhir Rasulullah bersabda seperti ini kepada Ali bin Abi Thalib.
Baca lebih lanjut

Musyawarah


Dalil urgensi musyawarah: QS. Ali-Imran: 159

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“…karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah…”

Musyawarah: Belajar dari Perang Uhud

Ketika itu suasana sedang mencekam, intel Rasulullah mendapati bahwa Makkah akan menggempur Madinah dengan kekuatan penuh karena ingin membalas dendam atas petaka yang menimpa mereka pada Perang Badr Kubra. Dan kejadian yang akan menyejarah tersebut akan terjadi tinggal menghitung hari. Maka dari itu, Rasulullah menggelar Majelis Permusyawaratan Militer. Padahal Rasulullah telah bermimpi yang seharusnya bisa dijadikan rujukan utama dalam perang nanti.
Hikmah #1: Segenting apapun, musyarawarah tetap penting dan sangat dianjurkan. Mimpi Nabi ‘hanya’ menjadi bahan musyawarah, sedangkan hasil musyawarah yang telah disepakati adalah hal yang akan dilaksanakan.

Takwil dari mimpi Rasulullah saw mengatakan akan banyak sahabat dan keluarga Rasulullah yang terbunuh, serta rekomendasi untuk bertahan di Madinah. Hal terakhir ini diamini oleh para Shahabat senior, yaitu kaum Muslim tidak perlu keluar dari kota Madinah sehingga musuh berada dalam keadaan yang menggantung: bila tidak menyerang, mereka akan kehabisan makanan dan air; namun bila menyerang, posisi mereka tidak akan diuntungkan karena pasukan Madinah akan menyerang dari segala arah (bahkan wanita dan anak-anak bisa membantu menyerang dari atap-atap rumah). Adapun mayoritas Shahabat (khususnya para pemudanya, karena tidak ikut perang Badr Kubra) berpendapat bahwa kaum Muslim hendaknya keluar dari kota Madinah guna menghadapi kaum Quraisy Makkah. Argumennya: mengapa musti takut kalah, bukankah kematian di jalan Allah adalah hal mulia dan hal yang sangat diinginkan oleh para Shahabat?
Hikmah #2: Dalam musyawarah, diperbolehkan adu argumen (bahkan dalam kasus ini berargumen ‘melawan’ mimpi Nabi). Kerahkan semua kemampuan, buatlah argumen sekuat mungkin dari akal maupun hati. Akan tetapi, jangan sampai berdebat, bisa jadi keberkahan berawal dari adanya keridhaan orang yang mengalah (pendapatnya tidak dijadikan keputusan syura)

Akhirnya, pilihan kedua (yang kebetulan jadi suara terbanyak) inilah yang dijadikan mufakat. Rasulullah saw memutuskan untuk keluar dari kota Madinah dan menyongsong pasukan Makkah di bukit Uhud.
Hikmah #3: Perbedaan antara demokrasi dan musyawarah adalah bahwa musyawarah tidak melulu harus mengambil suara terbanyak, keputusan pemimpin musyawarahlah yang menjadi utama, dengan mempertimbangkan argumen-argumen yang ada. Setelah itu, semuanya harus patuh dan tawakkal atas azzam bersama tersebut.

Ada cerita unik tentang pentolan munafiqun Madinah, Abdullah bin Ubay bin Sahul. Berbeda dengan sikap politiknya sebelumnya yang selalu menentang, kali ini dia malah setuju dengan pendapat Rasulullah dan Shahabat senior untuk bertahan di Madinah. Hal ini tidak lain hanyalah untuk kepentingan dirinya, bukan kepentingan Islam. Dia ingin bertahan di Madinah agar tidak ketahuan bila dia bersembunyi dan tidak ikut perang. Jadi, berhubung keputusan musyawarah adalah keluar Madinah, ia membawa pengikutnya untuk tidak ikut perang.
Hikmah #4: Setiap keputusan musyawarah, bisa jadi skenario Allah untuk membersihkan kaum beriman dari hal-hal yang mengotorinya dan dari hal-hal yang menghilangkan keberkahan musyawarah.
Baca lebih lanjut

Karakteristik Manhaj Qurani


Assalamu’alaykum wr wb

Tulisan ini insya Allah akan berkisah tentang buku Ma’alim fith Thariq-nya Sayyid Quthb.
Seumur-umur baru kali ini nemuin buku yang sulit dimengerti. Saya baca 3 cetakan buku tersebut (penerbitnya beda-beda) dan hal yang saya tangkep juga beda-beda.
Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut, pertama: Sayyid Quthb-nya emang pake bahasa yang sulit ketika menulis buku ini, atau yang kedua: penerjemahnya yang kurang tepat mengalihbahasakannya sehingga ketika dibaca jadi tidak fokus penekanannya dan tidak bisa ditangkap pesannya.

Nah, untuk kali ini insya Allah akan ditulis ulang mengenai karakteristik Al Quran sebagai manhaj hidup sesuai hasil tangkapan otak saya dari buku terbitan Darul Uswah (buku ketiga yang saya baca, soalnya pas dicek ke terbitan yang lain. karakterisitk yang saya tangkep beda =p).
Oke, mulai:

1. Tujuannya jelas

Sudah jelas bahwa tujuan akhir dari manhaj Al Quran adalah tegaknya Laa Ilaaha Illallah wa Muhammadur Rasulullah di tiap hati umat Islam, agar aqidah yang lurus itu hadir di tiap relung jiwa manusia yang lahir ke dunia. Itulah mengapa Rasulullah mati-matian memulai penyamapaian risalah Islam dari titik ini, karena Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran tentang tauhid di awal mulanya.

Kita tahu bahwa pada saat itu, Arab “dijajah” oleh Romawi di bagian utara dan oleh Persia di bagian selatannya. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan menghembuskan nafas nasionalisme di kalangan bangsa Arab untuk mengusir Romawi dan Persia dari tanah air, sehingga ketika kemenangan diraih, Rasulullah bisa mulai menyebarkan Islam. Tentu lebih realistis, mengingat bangsa Arab memang seolah terlahir untuk perang (baca: sudah terlatih berperang).

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mengalami masa ketidakadilan yang sangat parah. Riba terjadi dimana-mana sehingga jurang antara si kaya dan si miskin begitu jauhnya. Belum lagi terjadi perbudakan yang sangat tidak manusiawi. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan meniupkan angin sosialisme di kalangan bangsa Arab. Merangkul kaum tertindas untuk melawan kaum borjuis yang sewenang-wenang. Menciptakan revolusi untuk mengembalikan hak si miskin agar sejajar dengan si kaya.

Atau kita tahu bahwa pada saat itu, Arab mencapai level moralitas pada titik nadirnya. Dekadensi moral dengan segala bentuknya terjadi di masa itu: merebaknya khamr dan judi, berlomba-lomba untuk mendzalimi agar tidak didzalimi, hingga berbagai jenis pernikahan jahiliyah yang hina. Padahal kalau pakai logika, Rasulullah mungkin saja memulai perjuangannya dengan mengangkat panji-panji moralitas untuk membersihkan jiwa-jiwa bangsa Arab dengan akhlaknya yang terpuji dan tingkahnya yang penuh inspirasi.
Baca lebih lanjut