Keluarga: Wasilah Surga


Keluarga sebagai Wasilah Mencapai Surga.

  1. Menikah adalah perintah dari Allah SWT.

    وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (TQS An Nur: 32)

  2. Menikah merupakan bagian dari da’wah, yaitu: syi’ar dan pembentukan generasi yang shalih.

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (TQS. Ash Shaffat: 100)

  3. Pembentukan keluarga taqwa

    وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
    أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
    خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

    “Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (TQS. Al Furqan: 74-76)

  4. Baca lebih lanjut

[jurnal] solid dan visioner


Tulisan ini akan saya awali dengan kuot dari Khalifah Umar r.a. Beliau pernah berkata, “Tiada Islam tanpa Jamaah,dan tiada Jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Penekanan kali ini ada pada ‘tiada jamaah tanpa kepemimpinan’. Hingga saat ini, saya masih percaya bahwa itu benar adanya. Namun, apa yang terjadi bila kita membaliknya: ‘tiada kepemimpinan tanpa jamaah’? Saya rasa itu juga benar. Mari kita simak ayat berikut ini.

“Jika ada 20 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 200 orang musuh,dan jika ada 100 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 1000 daripada orang kafir.” (TQS. Al Anfaal: 65)

Jika kita menggunakan kacamata matematika, hal di atas tentu sangat aneh. Kenapa ga sekalian aja: 1 orang yang sabar akan mengalahkan 10 orang musuh? Bukankah secara rasio sama? Akan tetapi, disitulah ke-Mahabenaran Allah. Satu orang akan sulit mengalahkan 10 orang musuh, karena dia SENDIRI.

Malah bisa jadi untuk mengalahkan 1 orang saja susah meskipun ia sabar. Kalo mau coba, sok dakwahi 1 orang saja di sekitar kita, yang tadinya belum berislam secara kaffah menjadi seorang pejuang da’wah juga seperti kita. Sulit bukan?

Oleh karena itu, bergeraklah bersama-sama. Angkat seorang pemimpin dan bantu dia dengan taat kepadanya. Janganlah kita memberi amanah yang berat kepada seseorang namun kemudian kita meninggalkannya sendirian.

Tetapi juga janganlah berambisi memiliki sebuah jabatan. Menurut saya (terinspirasi dari kang Dimas Taha), seorang muslim HARAM memiliki ambisi untuk memiliki jabatan, namun WAJIB mempersiapkan diri terhadap setiap jabatan yang ada. Kenapa begitu? Mungkin hadits ini bisa menjawabnya:
Baca lebih lanjut

Syukur dan Sabar


“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

assalamu’alaykum wr wb
alhamdulillah wa syukurillah,, sebelum nulis yuk bersyukur dulu… =D
tak lupa kita haturkan shalawat dan salam kepada Rasulullah tercinta dan terindu (mohon terima kami sebagai umatmu)

umm, sebenernya apa yang ingin saya tulis ini, saya dapatkan ketika DP2Q I Majelis Ta’lim Salam XVI. tepatnya pada tanggal 29-31 januari 2010 lalu. waktu itu ust Abu Rabbani yang menyampaikan.

yap, tentang sabar dan syukur.
dua buah kata yang gampang banget diucapkan, tapi pas mau ngelaksanainnya, masya Allah berat banget… ='(

tapi tenang! bagi seorang mukmin, walaupun berat, itu adalah karakter defaultnya (jadi kalo ga bersyukur dan bersabar, imannya dipertanyakan!)
melalui lisannya, sang Nabi bersabda bahwa orang yang beriman ketika senang akan bersyukur dan ketika sulit akan bersabar.
Baca lebih lanjut

wahai jiwa, afwan… T.T (part.2)


wahai, jiwa…
sadarlah!

sungguh, betapa mudahnya Allah menggantimu:
dengan orang yang lebih ikhlas hatinya
dengan orang yang lebih khusyuk ibadahnya
dengan orang yang lebih dahsyat dakwahnya
dengan orang yang lebih gigih jihadnya
dengan orang yang lebih sabar akan masalahnya
dengan orang yang lebih syukur akan anugerahnya
dengan orang yang lebih banyak amanahnya

tetapi tidak!
jangan mau tergantikan.
biarlah engkau lelah bermain selama 90 menit, bahkan hingga babak tambahan…
biarlah lelah itu berkumpul menjadi energi ekstra untuk menyambut lelah-lelah berikutnya…
biarkanlah lelah itu lelah mengejarmu…

wahai jiwa,
hadirkanlah semangat surga! HAMASATUL JANNAH!
surga terlalu luas untuk dihuni oleh satu orang…
ajaklah orang-orang yang kau cintai karena Allah,
lalu berlomba-lombalah dalam kebaikan,
hingga SURGA yang RINDU menanti kedatangan kita…
amin.

Sabar


“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang SABAR.” (QS. Ali ‘Imran: 146)

assalamu’alaykum wr wb

sabar, satu kata yang masih sulit untukku gapai…
namun, di suatu waktu ada taushiyyah dari seorang saudara yang membuatku memperbaiki definisi dari kata sabar tersebut..
hal tersebut tertera pada QS. 3: 146 yang saya kutip diawal tulisan

sabar adalah,,,
1. Tidak menjadi lemah
2. Tidak lesu
3. Tidak menyerah

yup, kesabaran bukanlah suatu kepasrahan begitu saja menerima masalah kemudian hanya tersenyum lemah mencoba tegar padahal hatinya sangat hancur..
bukan itu!
Baca lebih lanjut