Sains dalam Islam


Setelah baca-baca lagi tulisan saya tentang Penyakit SePiLis, saya merasa ada yang kurang terbahas, yaitu tentang kontroversi agama dan sains: Benarkah agama dan sains itu bertentangan?

Ada yang bilang bahwa kebenaran itu didasarkan pada terbuktinya sesuatu (misal: teori) secara objektif. Dari situ dia menyimpulkan: “Karena Tuhan tidak pernah menunjukan wujudnya secara objektif, itu berarti Tuhan tidak pernah ada. Kalo pun ada, Dia hanya berada di pikiran kita karena kitalah yang menciptakan Tuhan. Di luar pikiran kita, Tuhan tidak pernah ada di dunia nyata.”

Sebenernya pernyataan itu tinggal dijawab dengan sebuah logika sederhana: Udara juga tidak terlihat, namun kita yakin akan keberadaan udara karena dengan udara kita bisa bernafas, dengan udara yang bergerak (angin) daun bisa berterbangan, dan sebagainya. Begitu juga dengan rasa marah dan rasa takut. Semuanya tidak terlihat akan tetapi kita percaya bahwa mereka ada.

Tuhan pun seperti itu (seharusnya kita tidak boleh menyifati Allah seperti ini, Mahasuci Allah dari apa yang manusia sifatkan kepada-Nya), kita bisa merasakan dan memikirkan eksistensi Tuhan dari ciptaan-Nya. Hal paling sederhana saja begitu rumit untuk diciptakan oleh manusia, apalagi bila terjadi dengan sendirinya (lebih tidak mungkin). Pasti ada Tuhan yang menciptakan dan mengatur itu semua.

Lebih jauh lagi, kita panggil om Aristoteles untuk menerangkan causa efficiens miliknya, yaitu suatu sebab yang menjadi asal mula perubahan. Pembuktiaan om Aristoteles ini dinyatakan dengan jelas di dalam karyanya “Metafisika” dan dihubungkan dengan pembuktian tentang adanya ‘Penggerak yang Tidak Bergerak’ atau ‘Penggerak Pertama’.
Baca lebih lanjut