Kurikulum Pendidikan Anak (Bagian Akhir)


Tulisan ini adalah lanjutan dari Kurikulum Pendidikan Anak dan akan membahas pendidikan anak dari usia 7 tahun hingga dia mencapai kondisi baligh. Bagi yang belum baca tulisan sebelumnya (bagian awal), kayaknya lebih baik untuk baca terlebih dahulu. Nah, kalau sudah baca tulisan sebelumnya, langsung saja ke pembahasannya di bawah:

Umur 7 Tahun Hingga 10 Tahun

Berkebalikan dengan masa kanak-kanak, mulai umur 7 tahun seorang anak akan mendapatkan pengaturan dan pendisiplinan oleh orang tua, penegakkan nilai-nilai, dan pembinaan ibadah untuk menjadi ‘abduLlah (hamba Allah). Dalam pembagian cara mendidik anak menurut Ali bin Abi Thalib ra, saat usia ini kita akan perlakukan anak sebagai tawanan.

Telah meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata, “RasuluLlah saw bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka 7 tahun, dan pukullah mereka saat usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Gampangnya, pada umur 2-7 tahun dipahamkan mengenai Rukun Iman, pada umur 7-10 tahun dipahamkan Rukun Islam. Oleh karena itu, saat anak beranjak 7 tahun, kita memerintahkan anak kita untuk melakukan ibadah dengan baik dan benar, misalnya shalat (dalam hadits di atas). Mungkin bisa saja kita mengenalkan keduanya pada anak kita sebelum 7 tahun, namun ketika sudah 7 tahun keduanya harus ditunaikan dengan kedisiplinan yang tinggi. Dan ketika umur 10 tahun, Nabi mengajarkan kalau tidak shalat itu boleh dipukul dengan syarat tidak melukai, tidak membuat kulit luka, atau tidak membuat tulang/gigi menjadi patah. Pukulan bisa diletakkan di punggung atau pundak, tetapi tidak boleh di wajah. Juga tidak boleh memukul lebih dari sepuluh kali, karena ini bukan masalah hudud yang sudah ditetapkan oleh Allah (seperti berzina).

Bisa juga kita sebagai orang tua kita membuat kesepakatan dengan anak, nanti kalau kamu sudah 10 tahun tapi ada 1 shalat yang terlewat, pengen dipukul pakai apa? Dengan begitu, orang tua menghukum anak bukan karena marah melampiaskan emosi atau malah untuk menyenangkan diri orang tua (menghukum anak kok menyenangkan?), melainkan memang jadi konsekuensi dari kesepakatan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Semoga saja anak kita benar-benar bisa menjadi sebaik-baiknya ‘abduLlah pada usia ini.
Baca lebih lanjut

Audisi Imam


Tulisan ini bermula dari kegelisahan kalo lagi shalat berjamaah di masjid, imamnya suka melakukan “kesalahan umum dalam membaca Al Qur-an.” Termasuk saya juga yang masih banyak salahnya pas dites baca Qur-an. Hehe.. Makanya, saya suka ga mau kalo jadi imam, walaupun pengen banget PANTAS menjadi imam shalat. Huff…

Jadi gini lho, saya mau usul, kenapa ga diadain audisi imam masjid aja ya? Nanti diranking gitu, dari yang paling bagus ke yang bagus. Tapi rankingnya cukup diketahui sama yang ikutan audisi aja. Audisinya pun tertutup, untuk menjaga kehormatan yang ikut audisi. Usulan ini bisa dibuat untuk masjid-masjid lingkungan yang ada di perumahan elit sampai di perkampungan, juga untuk masjid sekolah, kampus, dan instansi lainnya.

Terus gimana cara audisinya? Kalo menurut pemerintah, khususnya Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dari Kementerian Agama RI, ada beberapa persyaratan, kompetensi umum, dan kompetensi khusus tentang Penetapan Standar Imam Tetap Masjid.

Persyaratan:

  1. Islam
  2. Laki-laki
  3. Dewasa
  4. Adil
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Berakhlak mulia
  7. Berfaham Ahlusunnah wal Jamaah
  8. Memiliki komitmen terhadap da’wah Islam

Baca lebih lanjut

Amalan Terbalik


Hello guys, apa kabs?
Udah lama nih, saya gak nulis. Hehe…

Pada tulisan kali ini, saya mau cerita nih. Kadang saya sering menemukan orang-orang yang melalukan amalan terbalik. Saat amalan tersebut disunnahkan, dia malah tidak melakukan. Saat amalan tersebut tidak disunnahkan, dia malah melakukan. Kan kebalik. Dan ini tipikal, banyak dijumpai.

Setiap sebelum shalat, imam shalat hampir pasti mengucapkan hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik ra, RasuluLlah saw bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim)

Tapi, pas saya ngerapatin shaf, bapak2 di sebelah malah menjauh. Pengen banget bilang: “Pak, tadi kata imam disuruh ngerapatin shaf.” Triknya nunggu bapak2 di sebelah itu takbiratul ihram, baru saya rapatin. Mehehehe…

Anehnya, sering orang yang tidak mau ngerapatin shaf itu adalah orang yang ngajak salaman sehabis shalat. Padahal saya belum menemukan contoh tersebut dari Nabi saw.
Baca lebih lanjut

Alternatif Pencapaian Ramadhan


Pada tulisan kali ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk membuat rekor ibadah di bulan Ramadhan. Nah ini dia alternatifnya:

1. Shaum Ramadhan

Yang pertama tentu saja melaksanakan shaum Ramadhan 1 bulan penuh. Berikut ini beberapa keutamaan shaum di bulan Ramadhan:

Dari Abu Hurairah radhiaLlahu ‘anhu, bahwa RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam bersabda: “Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah ‘Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berfirman (kepada surga): ‘Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu’, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya, “Wahai RasuluLlah apakah malam itu Lailatul Qadar?” Jawab beliau, “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)

Oia, jangan lupa, selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shaum (makan, minum, bersetubuh, dll), kita juga musti menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala shaum tersebut, misal: marah, berpikir yang nggak-nggak, melihat yang nggak-nggak, menyentuh yang nggak-nggak, dan yang sejenisnya.

Yuk, di Ramadhan kali ini kita targetkan untuk shaum satu bulan penuh.

2. Shalat fardhu

Kuncinya tiga hal: cara, waktu, dan tempat. Caranya dengan selalu berjamaah, tempatnya selalu di masjid, dan waktunya selalu tepat pada saatnya.

Dari Ibnu Umar radhiaLlahu ‘anhu, sesungguhnya RasuluLlah shalaLlahu ‘alahi wasallam. bersabda, “Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Dari Buraidah radhiaLlahu ‘anhu dari Nabi shalaLlahu ‘alahi wasallam, beliau bersabda, “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sering berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (Hr. Abu Dawud)

Sedangkan maksud dari tepat pada waktunya adalah tepat ketika diadakan shalat berjamaah di masjid (bisa di awal, bisa di tengah waktu shalat), serta tidak tertinggal takbir pertama.
Baca lebih lanjut

Shalat Tarawih


Arti Tarawih

Kata tarawih adalah bentuk jamak dari kata tarwih, yang berasal dari kata raha yang artinya “mengambil istirahat”. Shalat ini disebut shalat tarawih, karena orang yang menjalankan shalat ini mengambil istirahat sejenak.

Tata Cara Shalat Tarawih

Ada dua hadits yang harus kita renungi untuk mengetahui tata cara shalat ini.

Pertama,
“Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam shalat tidak lebih dari sebelas rakaat, baik dalam bulan Ramadhan maupun lainnya: Beliau salat empat rakaat –jangan tanya tentang bagus dan lamanya– kemudian empat rakaat lagi –jangan tanya pula tentang bagus dan lamanya–, kemudian tiga rakaat…” (HR. Muslim)

Kedua,
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu berkata: “Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika engkau khawatir akan datanya fajar maka shalatlah 1 rakaat agar jumlah rakaatnya ganjil.’” (Muttafaqun ‘ilaihi)

Dari dua hadits di atas kita tahu bahwa Shalat Tarawih berarti: shalat dua rakaat lalu salam, kemudian shalat dua rakaat lalu salam. Nah, sampai sini istirahat dulu; seperti tilawah, makan(?), tidur(?), fesbukan(?), iya makin ngaco hehe. Setelah itu dillanjutkan lagi dua rakaat hingga salam, lalu dua rakaat lagi hingga salam. Kemudian istirahat lagi. Setelah itu baru witir.

Lalu, bagaimana dengan shalat Tarawih yang 23 rakaat (+ witir)?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz (beliau Mufti Kerajan Saudi Arabia pada zamannya) menjawab tidak mengapa shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, karena Rasulullah tidak pernah secara tegas membatasi shalat sunnah pada jumlah tertentu (yang penting shalatnya dua rakaat-dua rakaat, sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar di atas).

Selain itu, Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa permasalahan bilangan shalat malam adalah permasalahan yang ada kelonggaran di dalamnya.

Baiknya kita mengikuti imam shalat Tarawih saja. Alasannya dari hadits berikut ini:
Baca lebih lanjut

Menyambut Dzulhijjah 1431 H


“Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (TQS. Al Fajr: 1-2)

“Yang dimaksud Layalin ‘Asyr,” begitu Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir Alquranil ‘Adhim: 8/390, Dar Tayyibah, “adalah 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan yang selain mereka.”

Dalam ayat tersebut Allah bersumpah dengan “Layalin ‘Asyr” yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam kaidah ilmu ushul tafsir disebutkan apabila Allah bersumpah dengan sesuatu, pasti hal tersebut sangat penting dan memiliki manfaat yang besar.

Kemudian Rasulullah juga pernah bersabda:
“Tidaklah ada hari-hari yang amalan shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dibandingkan hari-hari ini (10 hari pertama bulan dzulhijjah). Mereka bertanya: Tidak pula dibandingkan jihad di jalan Allah? Rosululloh menjawab: Tidak pula dibandingkan jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidaklah kembali dengan membawa sedikitpun dari hal itu (meninggal dunia).” (HR. Tirmidzi: 757, Abu Dawud: 2438, Ibnu Majah: 1727)

“Yang jelas,” demikian penuturan Al Khafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, “bahwa sebab keistimewaan 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah adalah karena ia merupakan tempat berkumpulnya ibadah-ibadah pokok, seperti: sholat, puasa, dan shadaqah, serta ibadah haji yang tidak didapati pada bulan yang lain.”

Oleh karena itu, mari kita sambut bulan Dzulhijjah 1431 H ini dengan rangkaian amalan shalih. Berikut ada daftar amalan yang bisa kita kerjakan:
Baca lebih lanjut

Ketika Dua Hari Raya Bertemu


Dengan ini saya, Reza Primawan Hudrita, beserta keluarga (ngarep, haha =j) mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
Taqabballahu minna waminkum. Semoga kita mencapai kepada gelar At Taqwa di universitas Ramadhan ini dan bisa S2 di universitas Ramadhan selanjutnya. Amin.

—–

Teman-teman, ada suatu keunikkan dengan 1 Syawal tahun ini, yaitu bertemu dengan hari raya rutin umat Islam tiap pekan, hari Jumat.
Yap, hari raya idul fitri jatuh pada hari jumat dan ternyata ada sebuah fenomena yang Rasulullah lakukan ketika dua hari raya ini bertemu.

1. Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».

“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.” (HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310)

2. “Pernah ada dua hari raya berkumpul dalam satu hari, beliau menggabungkan keduanya dengan menjadikannya satu. Beliau mengerjakan dua rakaat shalat Iedul Fitri pada hari Jumat itu, kemudia beliau tidak menambah shalat lagi sampai kemudian mengerjakan Ashar.” (HR Abu Dawud 102,shahih dari Ibnu az Zubair)

Sikap boleh meninggalkan shalat Jumat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Sedangkan ulama Syafi’iyah hanya mengkhususkan hal ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy) dengan memegang dalil-dalil yang mewajibkan shalat Jumat berikut ini:
Baca lebih lanjut