How can I be smiling when you’re gone?


Haha… (ketawa miris)
Judul postingan kali ini ngutip dari sebuah lagu pop. Agak galau dan labil gitu sih.

Tapi jujur aja, lagu ini mengingatkan saya ke dakwah sekolah.
Ternyata sudah berlalu 4 tahun ya? *dan saya belum juga lulus =(*

Waktu itu, saya satu-satunya peserta IT (integrated training) yang diamanahkan jadi mentor.
Masih inget kok, kelas X-4! dan anak-anaknya udah pada lulus dari SMANSA 2010 lalu.
Padahal saya lagi semangat banget jadi mentor, padahal udah nyiapin banyak bahan supaya mentoringnya menarik.

Ah andai angan-angan itu bermanfaat, pengen banget ketemu mereka lagi.
Soalnya baru ketemu sekali sih, itu juga waktu mentoring general.
Sebab tak lama setelah itu, pengumuman SPMB keluar dan mengharuskan saya migrasi ke Bandung.

Hubungannya sama lagu Say It Isn’t So-nya Gareth Gates, karena saya berharap saat itu ada yang menahan kepergian saya (cari aja liriknya).

“Say it isn’t so, tell me you’re not leaving. Say you’ve changed your mind now.”
“How can I be smiling when you’re gone?”

Dan meminta saya untuk berada di dakwah sekolah saja, di SMANSA kita…
Haha (ketawa miris lagi), emang ngarep doang sih…


Baca lebih lanjut

jalan-jalan KIR ke Curug Cibeureum


selasa pagi, setelah mendapat 4 sms dari 4 orang berbeda yang ngundang acara jalan-jalan kir, akhirnya memutuskan untuk ikutan acara itu. tadinya kemungkinan gabisa, karena mau backpacking keliling jawa yang sudah direncanakan sepekan sebelumnya. tapi sampai pagi itu tetep ga ada tanda-tanda kepastian backpacking, jadi ikut jalan-jalan kir aja…

jam 6.30 baru berangkat (hehe, maaf kawan, jadi telat) ke pool damri deket botani square. ketemu ipeh, langsung masuk ke dalemnya. ternyata udah baru ada adenis, uswah, dan arina (bener ga?), kemudian datanglah cita, novita, dan pk.
nungguin si asep lama bener, udah gitu ga bisa dihubungi lagi =p
yasud, tinggalin aja.

kami bersepuluh (adenis diitung tiga, hehe) mulai menggerakan kaki nyari kendaraan menuju cibeureum.
setelah ditimbang-timbang, akhirnya diputuskan naik angkot 01 saja ke ciawi. disambung angkot colt nyampe cianjur (bener ga?)

nah, disini kami beli makan siang dulu, trus naik angkot kuning sampe ke tempat wisata gunung gede-pangrango. akhirnya nyampe juga, setelah beli karcis, kami langsung masuk.

kami terus mendaki sejauh hampir 30 hm. di tengah perjalanan kami menemukan danau biru, karena memang airnya berwarna biru. bagus banget…


Baca lebih lanjut

30 Hari di Bogor: Planetarium (part 3 – habis)


*ini cerita terakhir liburan di Bogor. tepat keesokan hari dari Integrated Training FORKOM ALIM’S*

bermula ketika a’adizul ngirim message ke grup KIR di fesbuk. isinya bahwa akan ada pengamatan gerhana bulan parsial di planetarium jakarta (eh, berarti judulnya salah, ini bukan di bogor boi)

uwow, seneng banget. kesempatan emas nih. setelah berhasil beberapa kali mengunjungi bosscha (meski belon pernah neropong pake teleskop yang gede), sekarang bisa ngunjungin pusatnya tempat kegiatan perastronomian di ibu kota.

langsung saja (gak langsung-langsung amat sih, selang beberapa hari kalogak salah) ngehubungi novita yang jadi contact person di message itu. bilang mau ikut, sekalian nanya sapa aja nyang mau ngikut.

*skip aja langsung ke hari H*

hari ini hari sabtu, kemaren hari jumat jalan-jalan ke daerah ciawi sana untuk ikutan acara IT. sekarang saatnya ngebolang ke kota metropolitan. haha

saya di hubungi qq untuk kumpul jam 15 di stasiun bogor. heu, mikir asharnya gimana. tapi yawda dateng dulu aja.

nyampe di stasiun belum liat sapa-sapa. lama kemudian qq dateng sama seorang perempuan, kayaknya adeknya (ampe akhir perjalanan gak tau itu siapa. hehe)
kata qq nunggu arina. setelah lama nunggu, ternyata arina udah ada di dalem. hadoh, gimana sih.

setelah beli tiket, kami masuk ke tempat kereta parkir (?) dan nyari arina. dia ga ada di kolong kereta (yae yalah, emang rel?)
ternyata arina sama seorang laki-laki, curiga adeknya tapi kok lebih tinggi. dan ternyata emang adeknya. alhamdulillah, qq dan arina bawa mahramnya. jadi tenang.

setelah dirasa lengkap, kami pun naek kereta api tut tut tut.
setiap berhenti di stasiun, saya ngeliat keluar nyariin UI, tapi ga ketemu. wah, si marista boong nih. hehe,,,
Baca lebih lanjut

30 Hari di Bogor: IT WORKS (part 2)


*postingan kali ini adalah bagian hidup saya ketika di Bogor yang saya sebut: ngisi dadakan.*

hari ini adalah jumat sepekan setelah kejadian ngebolang di itb (institut tani bogor) hehe.
kalo mau tau ceritanya, baca aja postingan sebelum ini.

kali ini saya ingin berceritera tentang suatu acara yang diadakan oleh FORKOM ALIM’S (forum komunikasi alumni muslim-smansa) untuk lulusan SMANSA tahun 2010 kemaren. nama acaranya adalah Integrated Training (IT), suatu dauroh untuk mempersiapkan diri para calon mahasiswa untuk menempuh kehidupan pascasekolah. tema kali ini adalah WORKS yang merupakan akronim dari Towards Your Key of Success (bener gak? sotoy nih)

saya juga pernah jadi peserta dauroh ini ketika 2007 lalu. saat itu, pengumuman SPMB belon keluar, tapi saya udah dapet teknik elektro (kalo gak salah teknik elektro deh) di suatu perguruan tinggi swasta di jakarta (atau tangerang ya?) dengan nilai tertinggi kedua pada ujian masuknya. hoho… (ujian yang aneh)

ketika pemberangkatan dauroh, peserta yang ikut cuma 4 orang. saya, obeng, bancoy, dan ano (kelak keempat orang ini gak kuliah di bogor dan sekitarnya, jadi ga bisa bantu2 di smansa. hehe, maap ya…) tapi pas sore dateng yang laen, ada denis, irvan, galih, siapa lagi ya? asep dan agung kalo gak salah dateng deh.
Baca lebih lanjut

30 Hari di Bogor: IPB (part 1)


*tiga postingan ke depan merupakan cerita sederhana ketika saya berada di kota kelahiran, Bogor, selama 30 hari (sebenernya 31 hari soalnya dari tanggal 5 juni sampai 6 juli, tapi dibuat 30 hari biar sama dengan film ’30 hari mencari cinta’. hehe)*

jadi, setidaknya ada 3 hal menarik yang bisa diceritakan. dan untuk postingan kali ini saya akan cerita ketika saya JALAN-JALAN KE IPB!!!

pada suatu jumat, saya putuskan untuk jalan-jalan ke IPB dan UI. rencana ini bermula ketika saya melihat propaganda SALAM UI yang mau ngadain seminar pada hari jumat jam 13.30 di Masjid Ukhuwwah Islamiyyah. nah, saya berpikir gimana kalo paginya ke IPB dan sholat jumat di masjid Al Hurriyyah. mantep banget kan? hehe =D

setelah sms sana sini ternyata anak IPB-nya masih pada UAS atau kuliah. dan yang nyanggupin berangkat bareng cuma si lesus (jauh-jauh ke bogor, dapetnya anak bandung lagi. sejurusan dan sekamar pula. huh =j)

yawda, kita janjian aja di smansa.
tapi sebelum berangkat kita makan dulu di kantin smansa. hoho.
yang bikin kaget, ternyata ibu-ibu yang di kantin masih inget sama saya. trus dia seneng gitu. wow, saya terkenal juga ternyata (meski hanya di kalangan ibu kantin)

pas lagi makan, eh, ketemu luthfi kadep DU. dia lagi ngasih nilai staf-stafnya untuk di setor ke pembina (nilainya nanti keluar di rapot)
jadi inget dulu, saya juga pernah melakukan itu. dan ternyata departemen DU tuh nilai keaktifan di DKM-nya termasuk paling bagus diantara departemen yang lain (yae yalah, DU kan eksis. hehe)
Baca lebih lanjut

SALAM dan TAKBIR


A: eh, salam dan takbir-nya gimana?
B: dari zaman rasul, salam tuh assalamu’alaykum wr wb dan takbir tuh Allahu akbar!
A: *sigh*

hehe, becanda! =D

SALAM

patut disyukuri bahwa DKM memiliki peluang lebih awal untuk merekrut pengurus. ketika ekstrakulikuler lain hanya diberi kesempaan beberapa menit untuk display, DKM mendapatkan waktu 1 hari untuk ‘promosi’. ketika organisasi lain tampil dengan ‘garang’ dan penuh agitasi, DKM hadir dengan lembut dan menyenangkan. mungkin termasuk kufur nikmat ketika momentum ini lewat begitu saja. astaghfirullah..

kawan, mengajak siswa baru menuju kebaikan dimulai dari SALAM ini. jangan sampai persiapannya asal-asalan saja. siapkan apapun yang kita bisa, misal:

a. Branding

bagi para siswa baru, kesan di awal itulah yang kemudian dikenang dan mempengaruhi kehidupan di SMANSA selanjutnya. maka munculkanlah kesan bahwa DKM adalah organisasi yang eksis dan bermanfaat, yaitu memiliki karakter dan citra yang bersahabat bagi setiap siswa baru SMANSA sehingga mereka lebih membuka diri pada DKM. kalo udah gitu, da’wah pun akan lebih mudah.
tunjukkan juga bahwa DKM adalah organisasi yang besar, kuat, aktif, dan berpengaruh di mata publik. bikin asumsi bahwa kalo ga ikutan DKM, ga gaul. atau yang gak islami berarti ga trendi, hehe =D

perlu dicatat, saat SALAM ini yang dikejar adalah kuantitas karena sedang masa perekrutan, sedangkan kualitas dikejar ketika proses PODS dimulai. oleh karena itu, rekrutlah sebanyak-banyaknya para siswa baru dengan pencitraan yang baik di SALAM ini.
pencitraan yang baik mengenai lembaga dakwah, misal: acara yang tidak ngaret dan menunjukkan perilaku yang islami dari para panitia. oia, bisa juga nyambut siswa baru ketika sholat Dhuha pas MOS, insya Allah tersentuh.

b. Event (acara) dan Service (pelayanan)
Baca lebih lanjut

Program Tepat, Kerja (insya Allah) Berkah


Berikut ini ada rumus yang sering digunakan oleh GAMAIS ITB untuk membuat program kerja (terutama kepanitiaan), yaitu CAVD: Cash flow, Appreciation, Value, and Documentation. Yang perlu dicatat, rumus tadi bukanlah tahapan ataupun urutan, tapi biar enak aja nyebutnya CA-V-D! hehe =D

1. Cashflow/basis dana

perlu ada perubahan mindset di setiap departemen atau kepanitiaan bahwa proker adalah tempatnya menghasilkan dana, bukan menghabiskan dana. diharapkan setelah suatu program berakhir, yang terjadi adalah memberikan sejumlah uang ke bendahara, bukan sebaliknya. minimal impas lah.
lalu, perlu adanya kemandirian finansial. setiap departemen/kepanitiaan punya usaha sendiri dan tidak bergantung pada departemen danu atau donatur. misal, inkasi dari BIRU Smansa atau Al Mishbah.
bahkan, perlu ada target jangka panjang bahwa nantinya DKM memiliki keberlimpahan dana dan itu semua digunakan untuk pelayanan umat, semisal beasiswa dan penyaluran zakat/infaq/shodaqoh/hewan qurban. salah satu keberlimpahan dana itu didapat dengan mendirikan usaha mandiri.

2. Appreciation/Participation

dalam setiap program kerja, kita perlu memerhatikan objek, subjek, dan supporter sehingga mereka memberikan tanggapan positif kepada setiap yang DKM lakukan. ini juga menjadi salah satu parameter keberhasilan dakwah.
Baca lebih lanjut