Kembali ke Bandung


“Aku kembali ke Bandung kepada cintaku yang sesungguhnya.” (Soekarno)

Tadi baca Mata Najwa edisi ultah Metromini ke-15, terus Pak Emil menyebutkan kuot di atas. Jadi baper deh. Inget selama numpang hidup di Bandung. Hehe… AlhamduliLlah pekan lalu berkesempatan untuk menyambanginya lagi.
Bandung memang akan selalu terkenang, karena sebagian diri saya ada di sana. Di tiap sudut kota itu…

Sang Insinyur-Arsitek, Bung Karno


“Saya tidak yakin di kemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun sebuah bangsa.”
(Ungkapan Hati Soekarno kepada C.P. Wolff Soemaker)

Banyak orang yang tidak tahu bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Dr. (HS) Ir. Soekarno, adalah seorang arsitek karena (anggapan itu muncul akibat) saat beliau kuliah di Technische Hoogeschool (sekarang jadi ITB) memang tidak ada jurusan Arsitektur. Bung Karno tercatat sebagai mahasiswa TH, bersamaan dengan detik-detik berarkhirnya kekhalifahan Utsmani di Turki (TT_____TT), bernomor urut 55 di bidang Ilmu Bangunan, Jalan, dan Air. Meski judulnya lebih ke Teknik Sipil, mata kuliah kesukaan beliau adalah menggambar yang diajarkan oleh C.P. Wolff Schoemaker (arsitek Villa Isola, Observatorium Bosscha, dll) dan lebih senang menyebut dirinya Insinyur-Arsitek.

Karier pascakampus Bung Karno diawali dengan membantu proyek BOW (Departement van Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum). Sebenarnya beliau tidak mau ikut proyek tersebut karena itu tandanya dia membantu pemerintah kolonial sekaligus mengkhianati bangsanya, akan tetapi sang gurunda membujuknya sehingga beliau bersedia membantu di satu proyek saja di BOW. Selepasnya, Bung Karno lebih memilih untuk magang di kantor gurunya dan menjadi juru gambar proyek paviliun di Hotel Preanger, Bandung.

Karena rasa cintanya pada Tanah Air yang begitu besar, satu-satunya jalan meniti karier bagi Bung Karno hanyalah berwirausaha, yaitu dengan mendirikan biro arsitektur bersama kawannya yang bernama Anwari. Berhubung keduanya memiliki minat di politik juga (Bung Karno mendirikan PNI lalu menjadi ketuanya), biro ini pun terabaikan dan tak bertahan lama tanpa ada prestasi yang berarti. Apalagi setelah itu beliau dijebloskan ke penjara selama setahun (pebisnis yang memiliki catatan hitam tentu dibayangi ketidaklakuan).
Baca lebih lanjut