Hijab #1 (Materi Mentoring Kolosal PAS ITB)


Kita semua yakin, bahwa Islam adalah agama yang mulia dan sempurna. Satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Ia adalah din yang Rabbaniyyah, bersumber pada nilai-nilai ke-Tuhanan, yaitu Dzat yang menciptakan dunia dan seisinya. Bila Allah yang menjadi Mata Air agama ini, pasti lah terjamin kebenarannya, karena Dia-lah yang paling tahu rahsia yang ada di Bumi.

Walau begitu, dalam Islam juga terdapat unsur Insaniyyah. Beruntung sekali umat ini hanya diperintahkan untuk mengikuti sesamanya. Ya, Utusan Allah juga manusia, yang sama-sama makan, yang sama-sama tidur, dan sama-sama melakukan aktivitas kemanusiaan lainnya. Tidak seperti bangsa Yunani yang diperintahkan mengikuti Dewa, atau minimal Hercules (setengah dewa-setengah manusia).

Islam pun syumul, mengatur hidup dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan ketika tidur sampai bangun lagi. Mulai dari hal-hal kecil seperti gunting kuku, menyisir rambut, dan masuk ke kamar mandi, hingga hal-hal besar seperti berbangsa dan bernegara. Ia pun sifatnya universal, baik di Arab, di Eropa, maupun di Indonesia, baik zaman dahulu, zaman sekarang, maupun zaman akan datang, kita memeluk Islam yang sama.

Hanya saja, kecemerlangan cahaya Islam telah diredupkan oleh para pemeluknya. Kemuliaan Islam belum dibarengi dengan keindahan akhlaq para pengikutnya. Akhlaq muslim harus baik juga agar Islam tidak tercoreng. Sudah saatnya, kemuliaan Islam dibarengi dengan kecemerlangan akhlaq para pemeluknya!

Salah satu caranya adalah dengan dakwah, yaitu dakwatunnas ilaLlah bil hikmah wal maw izhotil hasanah hatta yakfuru bittaghut wa yu’minuna biLlah hatta yukhriju minadz dzulumati jahiliyati ila nuril Islam, menyeru manusia kepada Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik hingga mengingkari taghut dan beriman kepada Allah hingga keluar dari kegelapan jahiliyyah menuju cahya Islam yang terang-benderang.

Dakwah haru membuat perubahan, dari yang tadinya jahiliyyah menjadi ma’rifah, dari ma’rifah menjadi fikrah, dari fikrah menjadi amal. Percuma bila kita berilmu tetapi kita tidak mengamalkannya, apalagi kita malah menyesal karena telah terbebani oleh ilmu: “Tuh kan gara-gara ikut ta’lim saya jadi harus menjaga hijab, kalo saya ga ikut ga harus kan?”

Bila seperti itu, berarti ibarat ke dokter untuk mengecek kesehatan, tetapi setelah tahu penyakitnya malah marah-marah: “Gara-gara dokter nih saya jadi tahu sakit apa, kalo saya ga ke dokter saya kan ga kenapa-napa. Saya ga harus minum obat, masih boleh makan apa saja, masih boleh bergadang.”

Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit membahas tentang hijab. Landasan umum tentang hijab terdapat dalam QS. Al Israa’ ayat ke-32, yaitu:
Baca lebih lanjut