Heavenly Family =j


“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (TQS. Ath Thuur: 21)

Uhh, ini sih mupeng banget TT___TT
Bayangin aja, kita akan dikumpulkan dengan keluarga kita di surga nanti. Siapa yang gak pengen coba? Ayat ini harus menjadi visi setiap keluarga muslim di mana pun berada, yaitu: bersama-sama menuju tempat kembali yang baik. Upayakan meluangkan waktu dengan keluarga untuk men-tadabburi ayat ini sambil membayangkan satu keluarga tersebut bercengkrama di suatu dipan atau taman surga. Jadi, ketika mungkin anak kita melakukan sesuatu yang salah, katakan kalo hal itu gak boleh karena kita sebagai ayahnya ingin anak kita tersebut masuk surga bersama-sama. Untuk itu, hal salah tersebut jangan dilakukan. Dan ketika kita ingin mengajak anak kita kepada amalan shalih, jelaskan pula kalo hal itu dilakukan karena kita sebagai ayahnya ingin anak kita tersebut masuk surga bersama-sama pula. Kesimpulannya, yang kita tuju bukanlah shalih individu semata, namun jua shalih sosial. Jadi, jangan shalih sendiri, harus sama yang shalihah juga *eaaa…*

“Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (TQS. Ath Thuur: 22)

Mungkin inilah yang disebut makanan terbaik yang pernah ada kali ya? RasuluLlah kan makanan favoritnya kurma (buah) dan paha kanan kambing (daging). Buah-buahan, apapun itu, sangat menyehatkan tubuh. Gak percaya? Liat aja iklan-iklan minuman berasa buah-buahan. Daging hewan pun tidak sembarangan dimakan. Orang Indonesia mah semuanya dimakan, termasuk jeroan, padahal kalo di luar negeri, jeroan itu makanan anjing. Makan bakso pun minta gajih(lemak)-nya, padahal daging yang sehat itu yang tanpa lemak. Jadi, mari kita mulai biasakan makan makanan penghuni surga.

“(Di dalam surga itu) mereka saling mengulurkan gelas (khamr) yang isinya tidak (menimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah atau pun perbuatan dosa.” (TQS. Ath Thuur: 23)

Baca lebih lanjut

Surat untuk Forkom Alims


Dan Yusuf berkata, “…Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan…”

Saudaraku, ketahuilah bahwa hanya orang-orang besar yang berbicara tentang ide
Yaitu tentang mimpi-mimpi yang jauh melebihi zamannya berada
Dia bisa melihat apa yang orang lain luput melihatnya
Dia bisa visualisasikan hal-hal yang orang lain belum bisa membayangkannya
Dia bisa mengemukakan inspirasi yang bahkan orang lain tidak pernah terlintas di benaknya

Saudaraku, kita berdiri di sini dalam bingkai visi akan kebangkitan Islam
Kita berjuang di jalan ini dalam harap bahwa Islam akan jadi soko guru peradaban
Memang perjalanan yang sulit
Jaraknya terasa selangit
Bekal pun sedikit
Namun dengan keyakinan pada mimpi-mimpi, kita akan tertuntun pada kejayaan itu
Lantas, seberapa kuat keyakinanmu?

Saudaraku, meski di sekitaran kita terlihat pekat
Namun cahaya visi di hadapan akan buat kita kuat
Meski harus tertatih
Janganlah letih
Meski harus berpeluh
Janganlah mengeluh
Walau kita terantuk dan terjatuh
Bangkit, terus berlari, dan melompat lebih tinggi
Menuju cahaya visi
Lantas, seberapa terang cahayamu?
Baca lebih lanjut

Perencanaan


Pernahkah kita salah menghitung jumlah rakaat dari shalat yang kita lakukan? Kita mengira masih ada satu rakaat lagi, namun ternyata, imam sudah duduk tahiyyat akhir.

Apa yang kita lakukan bila itu terjadi? Pasti memaksakan diri untuk duduk mengikuti imam kan, padahal saat itu kita sedang bersiap diri untuk bangkit berdiri.

Saya rasa semua sepakat, ketika memaksakan diri untuk duduk tanpa persiapan karena niat awalnya untuk bangun, pasti terasa sakit di tubuh bagian belakang kita lalu posisi duduknya pun menjadi tidak nyaman. Belum lagi kita malah mengganggu jama’ah di sebelah kita yang mungkin kakinya tak sengaja kita duduki.

Nah, kawan. Mungkin seperti itu juga dalam kehidupan. Perencanaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, bukan berarti kita mendapat jaminan untuk tidak jatuh.

Akan tetapi, perencanaan itu akan membuat jatuh yang selamat, tidak terjun bebas langsung ke titik nadir.

Dan perencanaan itu membuat kejadian jatuh itu tidak berlama-lama menenggelamkan kita. Malah dengan jatuh itu, kita bisa bangkit, terus berlari, bahkan memberikan kekuatan untuk melompat lebih tinggi.

Lebih jauh lagi, perencanaan membuat kesetimbangan dengan lingkungan kita berada. Bukankah sebaik manusia yang paling bermanfaat? Dan itu menuntut rasa aman bagi orang lain terhadap dirinya bukan?

Jadi menyusun rencana adalah titik kritis dalam mengembangkan kehidupan dan kualitas diri. Dengan catatan, perencanaan itu menjadi aksi, bukan kata-kata manis yang cepat basi.

Dari mata turun ke hati, dari visi turun ke aksi….

Manajemen Organisasi


Sebenarnya ini adalah materi keorganisasian umum, yaitu: POAC.
Walau begitu, mari kita bahas satu persatu:

1. Planning

Dalam perencanaan organisasi, hal pertama kali yang harus dilakukan adalah pendefinisian PFP organisasi, yaitu: peran, fungsi, dan potensi organisasi. Peran dan fungsi bersifat given, karena biasanya kedua hal tersebut telah tercantum pada AD/ART kemudian ditambah dengan arahan dari Badan Legislatif organisasi tersebut. Sedangkan potensi, berasal dari analisis kondisi organisasi tersebut yang terjabarkan dalam SWOT, yaitu: Strength adalah kelebihan yang berasal dari internal organisasi, weakness adalah kekurangan yang berasal dari internal organisasi, opportunity adalah kelebihan yang berasal dari eksternal organisasi, sedangkan threat adalah kekurangan yang berasal eksternal organisasi.

Tahap selanjutnya dari masa perencanaan adalah perumusan visi organisasi. Visi ini haruslah mendefinisikan fungsi dari organisasi yang bersangkutan. Agar mudah, visi sebaiknya dibuat keyword dari tujuan organisasi terlebih dahulu, setelah itu baru dibuat kalimatnya. Syarat visi terangkum dalam akronim SMART, yaitu Spesific agar mudah divisualisasikan, Measurable dengan memiliki parameter-parameter untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dalam mencapai visi, Achievable yaitu harus rasional dan dapat dicapai oleh suatu kepengurusan. Reasonable sehingga layak diperjuangkan dan terdapat alasan yang kuat bagi kita untuk mengejarnya, serta Time-phased dengan memiliki bingkai waktu yang jelas dan memiliki tahapan-tahapan waktu dalam pencapaiannya. Dan kalimat visi biasanya diawali dengan kata “Menjadi…”

Terakhir, silakan tentukan Misi dari organisasi ini. Misi merupakan hal yang lebih strategis dan harus ‘mengakurkan’ antara PFP dengan Visi organisasi, serta harus bisa diturunkan menjadi sebuah atau beberapa proker sehingga tercapai tidaknya visi bisa kita lihat dari keberhasilan prokernya. Sebagai tambahan, biasanya misi diawali dengan kata “Melakukan…” atau “Membuat…”

2. Organizing

Setelah masa perencanaan selesai, kini saatnya beralih pada tahap pengorganisasian. Setidaknya ada 2 hal yang harus diorganisasikan, yaitu struktur organisasi dan sumber daya manusia.
Baca lebih lanjut

Dari Kampus Menuju Indonesia Islami


Pada bulan keduabelas tahun keduaributujuh sejak penanggalam Masehi diberlakukan, GAMAIS ITB mengadakan sebuah rangkaian kegiatan yang diberi nama Muktamar GAMAIS ITB. Ketika itu, Kang Iqbal selaku Kepala Departemen MSDA/Kaderisasi, mengumpulkan saya dan teman-teman angkatan 2007 lainnya yang baru saja dilantik menjadi kader muda GAMAIS ITB untuk dijadikan panitia Muktamar tersebut.

Saya masih ingat saat itu, kang iqbal berbicara tentang blueprint yang akan menjadi visi jangka panjang (waktu itu disebutkan 10 tahun, tetapi kemudian diubah jadi 6 tahun) dari GAMAIS ITB, sebagai output yang akan didapat dari Muktamar ini. Sayangnya ketika itu saya tidak jua mengerti blueprint itu seperti apa. Haha, dasar bocah!

Anehnya, saya malah diamanahi sebagai Koordinator Divisi HPD (Humas, Publikasi, dan Dokumentasi). Seperti namanya, divisi ini memiliki tiga tugas. Pertama, menyebarkan undangan kepada seluruh lembaga dakwah fakultas, sekolah, dan program studi yang ada di ITB. Kedua, membuat poster dan spanduk acara Muktamar. Dan ketiga, mengabadikan acara Muktamar dalam bentuk foto, video, rekaman suara, serta tulisan (notulensi).

Nah, untuk bisa memenuhi semua jobdesc tersebut, saya dibantu oleh beberapa orang. Dalam pembuatan surat undangan untuk lembaga dakwah fakultas, sekolah, dan program studi, saya dibantu Denli yang meminta tandatangan kang Ucup, sang kepala GAMAIS ITB. Lalu ketika harus menyebarkan beberapa surat, saya dibantu oleh kang Gamma yang saat itu menjadi Sekretaris Jendral GAMAIS ITB, sehingga saya tinggal memberikan surat ke beberapa lembaga saja. Untuk mendesain poster dan spanduk, ada Annisa dan teman-temannya. Waktu itu saya hanya sedikit menyunting poster dan spanduk yang telah mereka desain, mencetaknya, lalu memasangnya di sekitar ITB. Untuk dokumentasi, saya dibantu oleh Adjie, Aditya, Habiburrahman, Taufiq, Rika, dan yang lainnya.

Alhamdulillah, semuanya terlaksana dengan baik. Bahkan notulen yang kami buat, dijadikan sebuah buku yang berjudul Pedoman Lembaga Dakwah Kampus dan disebar ke seluruh kampus di Indonesia.

Ada satu hal yang membuat saya kagum ketika blueprint tersebut telah rampung, yaitu visi GAMAIS ITB tahun 2008-2013. Berikut saya tuliskan secara lengkap:
Baca lebih lanjut

[jurnal] solid dan visioner


Tulisan ini akan saya awali dengan kuot dari Khalifah Umar r.a. Beliau pernah berkata, “Tiada Islam tanpa Jamaah,dan tiada Jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Penekanan kali ini ada pada ‘tiada jamaah tanpa kepemimpinan’. Hingga saat ini, saya masih percaya bahwa itu benar adanya. Namun, apa yang terjadi bila kita membaliknya: ‘tiada kepemimpinan tanpa jamaah’? Saya rasa itu juga benar. Mari kita simak ayat berikut ini.

“Jika ada 20 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 200 orang musuh,dan jika ada 100 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 1000 daripada orang kafir.” (TQS. Al Anfaal: 65)

Jika kita menggunakan kacamata matematika, hal di atas tentu sangat aneh. Kenapa ga sekalian aja: 1 orang yang sabar akan mengalahkan 10 orang musuh? Bukankah secara rasio sama? Akan tetapi, disitulah ke-Mahabenaran Allah. Satu orang akan sulit mengalahkan 10 orang musuh, karena dia SENDIRI.

Malah bisa jadi untuk mengalahkan 1 orang saja susah meskipun ia sabar. Kalo mau coba, sok dakwahi 1 orang saja di sekitar kita, yang tadinya belum berislam secara kaffah menjadi seorang pejuang da’wah juga seperti kita. Sulit bukan?

Oleh karena itu, bergeraklah bersama-sama. Angkat seorang pemimpin dan bantu dia dengan taat kepadanya. Janganlah kita memberi amanah yang berat kepada seseorang namun kemudian kita meninggalkannya sendirian.

Tetapi juga janganlah berambisi memiliki sebuah jabatan. Menurut saya (terinspirasi dari kang Dimas Taha), seorang muslim HARAM memiliki ambisi untuk memiliki jabatan, namun WAJIB mempersiapkan diri terhadap setiap jabatan yang ada. Kenapa begitu? Mungkin hadits ini bisa menjawabnya:
Baca lebih lanjut

[jurnal] Pembentukan Tim


Assalamu’alaykum wr wb

Mencari sebuah tim bukanlah perkara mudah dan tidak bisa dipermudah begitu saja. Layaknya bangunan, perlu adanya keseriuasan dalam menentukan struktur, konstruksi, dan bahannya. Semua syarat dan ketentuannya berlaku.

1. Pilih bahan terbaik.

Yang paling bagus adalah yang ruhiyyahnya paling baik. Apalagi dalam organisasi dakwah.
Ruhiyyah kita dan ketaqwaan kita adalah modal untuk menjalankan perjuangan dakwah fii sabilillah.
Seleksi calon yang akan kita ajak menjadi tim dengan penjagaan amalan yaumiyahnya. Kemudian, tetap terus ingatkan mereka untuk jaga amalannya.

Ketaqwaan merupakan syarat terpenting dalam dakwah, karena disanalah iman, islam, ilmu, dan amal bermuara.
Akan lebih baik bila kita sampai kepada status ‘ihsan’, yaitu keadaan dimana ketika kita beribadah kita seolah dapat melihat Allah. Kalaupun tidak bisa, yakinlah bahwa Allah selalu melihat kita.

Hanya saja, semua itu hanya diri sendiri dan Allah yang tahu.
Yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan ibadah bisa pura-pura.
Maka Sang Nabi meletakkan banyak ukuran iman dalam KUALITAS HUBUNGAN SESAMA, diantaranya: berkata yang baik atau diam, memuliakan tamu, tak menyakiti tetangga, amannya sesama dari gangguan lisan dan tangan, jujur, amanah, tepat janji, tak menggunjing, tak memfitnah, saling mencinta, berakhlaq mulia, dan masih banyak lagi.

Ya, ukhuwah, itulah dampak dari iman.
Ukhuwah tidak perlu diperjuangkan, karena sesungguhnya tiap mu’min itu bersaudara.
Ia hadir ketika kita bersama-sama mengimani Allah.
Bagai beberapa benda yang menuju satu titik, benda-benda tersebut akan saling mendekat.
Begitu juga dengan kita, bila iman kita mendekat pada Allah semata, maka hati-hati kita akan saling mendekat.

Ukhuwah kita merupakan cerminan iman kita. Semakin erat berarti semakin sehat.
Baca lebih lanjut