[jurnal] solid dan visioner


Tulisan ini akan saya awali dengan kuot dari Khalifah Umar r.a. Beliau pernah berkata, “Tiada Islam tanpa Jamaah,dan tiada Jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Penekanan kali ini ada pada ‘tiada jamaah tanpa kepemimpinan’. Hingga saat ini, saya masih percaya bahwa itu benar adanya. Namun, apa yang terjadi bila kita membaliknya: ‘tiada kepemimpinan tanpa jamaah’? Saya rasa itu juga benar. Mari kita simak ayat berikut ini.

“Jika ada 20 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 200 orang musuh,dan jika ada 100 orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 1000 daripada orang kafir.” (TQS. Al Anfaal: 65)

Jika kita menggunakan kacamata matematika, hal di atas tentu sangat aneh. Kenapa ga sekalian aja: 1 orang yang sabar akan mengalahkan 10 orang musuh? Bukankah secara rasio sama? Akan tetapi, disitulah ke-Mahabenaran Allah. Satu orang akan sulit mengalahkan 10 orang musuh, karena dia SENDIRI.

Malah bisa jadi untuk mengalahkan 1 orang saja susah meskipun ia sabar. Kalo mau coba, sok dakwahi 1 orang saja di sekitar kita, yang tadinya belum berislam secara kaffah menjadi seorang pejuang da’wah juga seperti kita. Sulit bukan?

Oleh karena itu, bergeraklah bersama-sama. Angkat seorang pemimpin dan bantu dia dengan taat kepadanya. Janganlah kita memberi amanah yang berat kepada seseorang namun kemudian kita meninggalkannya sendirian.

Tetapi juga janganlah berambisi memiliki sebuah jabatan. Menurut saya (terinspirasi dari kang Dimas Taha), seorang muslim HARAM memiliki ambisi untuk memiliki jabatan, namun WAJIB mempersiapkan diri terhadap setiap jabatan yang ada. Kenapa begitu? Mungkin hadits ini bisa menjawabnya:
Baca lebih lanjut

[jurnal] Visioner


Assalamu’alaykum wr wb

Alhamdulillah, huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinilhaq, liyudzhirahu ‘ala dini kullih. wakaffa billahi syahida.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Umm, insya Allah saya akan menulis beberapa jurnal terkait kepemimpinan dan berorganisasi.
Tulisan pertama ini mengangkat tema pemimpin yang visioner. Ini dia…

Visioner, menjadi karakter wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dia harus punya mimpi dan mengetahui mau kemana timnya hendak ia bawa. Juga langkah-langkah untuk merealisasi mimpi tersebut.

Contoh terbaik telah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada perang Khandaq. Memang beliau adalah sosok uswah sebenarnya. Semua karakter pemimpin yang ideal sudah ada pada diri beliau.

Menjelang perang, keadaan umat Islam saat itu sedang mengalami berbagai kendala, baik internal maupun eksternal. Secara internal mereka tidak memiliki pasukan sebanyak yang dimiliki musuh.

Dalam Perang Ahzab saja, umat Islam yang berjumlah tiga ribu orang harus menghadapi sepuluh ribu orang yang bersekutu dari kabilah-kabilah Quraisy dan Yahudi Madinah. Banyak pula umat Islam yang dulunya berasal dari kalangan budak, bahkan penjahat, yang sering dimarjinalkan.

Pun, sarana yang dimiliki jauh lebih sedikit dibandingkan musuh. Tidak kurang pula, secara eksternal umat Islam dirongrong oleh berbagai konspirasi yang memanfaatkan pula para oportunis munafik di kalangan umat Islam.

Ditambah lagi, ketika para sahabat sedang bekerja menggali parit, mereka menemukan kesulitan karena menandapati tanah yang terlalu keras untuk digali. Mereka kemudian mendatangi Rasulullah dan melaporkan hal tersebut.
Baca lebih lanjut